Bayangan Pandangan Pertama
sudahlah
mata ini sudah lelah
sudah malu berkedip
mulut ini sudah lelah
sudah hina memohon
telinga ini sudah lelah
sudah tak berkutik di bisikanmu
kaki ini sudah lelah
berlari mengejar matahari pagi
apalah hati ini
sudah lelah lah pasti
menangis dan menjerit
sejak kapan
entah bagaimana
sulit dengan rangkaian kata
bisa terjelaskan dengan semua
tak ada guna lagi
semua ini bertahan
menahan hempasan angin jahanam
sejak duduk di biru putih
semua ini muncul
semua ini bergejolak
meski terus menolak
untuk semua ini
tapi apa daya sanubari tetap memaksa
bangku demi bangku
ruang demi ruang
tahun demi tahun
ku coba melupakan
semua tentang rasa
namun apalah daya,
dari yang terkecil ini sudah bicara
meski tetap menolak
kehidupan baru pun terbentuk
dengan lingkungan abu-abu
mata sudah curi-curi waktu
kepada insan lain
tapi dengan foto
dengan bayangannya
tetap ada di sanubari
meski kali ke dua dengan yang lain
tapi tetap ada harapan
kedewasaan sudah ku gengam
berupaya memperbaiki masa lalu
membuang kenangan
semua sudah kulakukan
dan ini tengah berhasil
tapi, kamu muncul dengan jurus baru mu
muncul dengan pesonamu
dengan komunikasimu
apalah daya ini
semua yang terbuang
mulai terpunggut lagi
mulai terajut asa lagi
salahkah semua ini?
jika ku tetap mempertahakan
pandangan pertamamu
dan mendoakan namamu dalam doa ku?