Rabu, 03 Mei 2017

Assesment dalam Prespektif Karir

    Perkembangan standarisasi tes dan inventory asesmen memiliki ikatan yang erat dengan gerakan konseling vokasional. Sebelum tahun 1883, the US Civil Service Commision menggunakan ujian kompetitif untuk penempatan kerja (Kavruck,1996). Berbagai tes berkembang selama pertengahan tahun 1940- an dan digunakan secara meluas dalam konseling pendidikan dan vaksional. Tes bakat terhadap pelajaran berguna sebagai kriteria memasuki institusi pendidikan yang diimplementasikan melalui educational testing service (ETS) yang ditetapkan pada tahun 1947 dan american college testing program (ACT) yang ditetapkan pada tahun 1959.
    Terdapat kontroversi dari penggunaan tes bakat dalam konseling karir. Tentang hasildua study terhadap nilai tes ini yang berperan sebagai prediktor keberhasilan pada masa akan datang, yaitu bagaimana tes dapat memprediksi peforma suatu vokasional atau program pelatihan. Thorndike dan Hogan (1959) mengikuti pola karir dari 1000 laki-laki yang dites selama PD II untuk menentuhkan jika hasil tes ini merupakan prediktor valid bagi keberhasilan orang-orang tersebut. Hasil study selama 12 tahun pertama tidak menghasilkan prediksi akurat tentang keberhasilan dalam vokasional pekerjaan. Penelitian lain Ghiseli (1966) berpendapat bahwa prediksi keberhasilan dalam program vokasional pelatihan yang berdasarkan atas hasil tes itu hanyalah karena sedang dapat dipercaya. Kutipan studi ini dan persoalan lain dalam menggunakan tes ini untuk populasi khusus (kelompok etnik dan wanita) tentang penggunaan instrumen asesmenini dalam program konseling karir sebenarnya membingungkan.
     Secara historis, asesmen merupakan bagian integral dari konseling karir. Asesmen konseling karir memiliki sejarah panjang sepanjang sejarah konseling karir itu sendiri, banyak karya asli dari Fank Parsons. Parsons (Whistom, 2000) mendorong perkembangan asesmen konseling karir kedalam tiga tahap model konseling karir. Tahap pertama, study atau mengukur individu yang merupakan testing individual yang bersifat esensial. Beberapa individu yang memandang konseling karir hanya sebagai terdiri atas testing dan menyediakan informasi okupasional. Pendekatan "tes dan berkata" ini tidak merefleksikan status terbaru dari wilayah konseling karir, untuk penelitian menunjukkan bahwa konseling karir tidak dapat dipisahkan dari konseling personal (individual). Asesmen, merupakan instrumen penting yang rutin digunakan untuk membantu individu mengeksplorasi pengarahan karir dan membuat keputusan karir secara efektif. Spokane (Whiston, 2000) mengusulkan bahwa asesmen karir adalah untuk menggali dan menemukan kesesuaian kemungkinan karir, menilai konflik dan masalah, memotivasi perilaku ke arah yang lebih konstruktif, menemukan struktur kognitif untuk mengevaluasi alternatif karir, mengklarifikasi ekspetasi dan rencana intervensi dan menetapkan kemampuan. Sebagaimana deskripsi yang direfleksikan oleh Spokane, asesmen karir mempunyai tujuan yang beragam dan meliputi beragam wilayah yang luas.
     Bab ini akan membagi asesmen karir dalam dua kategori utama : instrumen-instrumen yang digunakan untuk menilai menilai perbedaan individu dan instrumen-instrumen yang digunakan untuk menilaiproses perkembangan karir. Banyak asesmen karir yang dapat digunakan yang dirancang untuk mengukur aspek perbedaan individu, seperti minat, bakat, nilai-nilai, dan kebutuhan. Pengukuran perbedaan individu digunakan dalam konseling karir karena memiliki hubungan yang efektif dalam pemilihan atau keputusan karir. Kategori lain dari instrumen berhubungan dengan proses pemilihan karir. Fokus kategori instrumen ini tidak pada atribut-atribut konseling tetapi lebih pada proses individu menyeleksi karir. Dalam istilah proses pemilihan karir, banyak instrumen berhubungan dengan ketidakmampuan membuat keputusan (indecision) atau tahapan kematangan karir konseling (career maturity).
    Komputer memiliki pengaruh yang signifikan pada asesmen karir dan diseminasi informasi karir. Sebgaimana komputer juga dapat digunakan oleh konseling untuk melengkapi asesmen karir yang didasarkan pada informasi okupasi tersebut. Beberapa program komputerisasi yang interaktif dalam asesmen minat, nilai-nilai, dan ketrampilan atau kemampuan konseling.

"Dikutip dari Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan, karya Dr. Uman Suherman AS."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tahap Memperoleh Pemahaman Diri Menurut Teori Trait and Factor

        Pada tahap ini dideskripsikan minimal lima jenis tes yang sering digunakan oleh konselor dalam konseling karir trait and factor, yai...