Pada tahap ini dideskripsikan minimal lima jenis tes yang sering digunakan oleh konselor dalam konseling karir trait and factor, yaitu bakat, prestasi, minat, nilai-nilai, dan kepribadian. Berikut penjelasan dari kelima jenis tes tersebut;
1. Bakat
Tes bakat digunakan untuk memprediksi level kemungkinan yang akan terjadi dan kemampuan individu untuk melaksanakan tugas. Bakat individu dapat diketahui melalui tes. Instrumen tes yang biasa digunakan dalam pengukuran bakat antara lain: Baterai Primery Mental Abilities (PMA) dari Thurstone, Differential Aptitude Test (DAT) terbitan Psychological Corporation, California Test of Mental Maturity, dan lain sebagainya. Di Indonesia untuk mengukur bakat individu digunakan tes yang bernama Intelligence Structure Test (IST) yang terdiri dari sembilan aspek bakat.
2. Prestasi
Sharf (1992:22) mengemukakan bahwa "achievements refer to a board range of event that individuals participate in and accomplish during their lifetime". Prestasi dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tahap pertama prestasi akademik, biasanya diukur dengan angka, akan tetapi dengan skor khusus tertentu. Kedua prestasi dalam kerja seperti kesempurnaan tugas-tugas. Ketiga yang sangat cocok dengan teori trait and factor yaitu prestasi yang terkait dengan syarat-syarat untuk memasuki dunia kerja. Prestasi dapat diukur secara kuantitatif melalui tes-tes yang digunakan untuk memasuki salah satu profesi.
3. Minat
Dapat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan (Kamisa, 1997:370). Minat adalah suatu yang bersifat pribadi dan berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka. Dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan sesuatu yang telah menarik minatnya. Hurlock (1986: 144) mengatakan bahwa minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih.
Selama berpuluh-puluh tahun, minat merupakan ciri yang sanagt penting dalam seleksi karir individu. Herr and Crammer (1984: 94) mengemukakan bahwa minat merupakan entry point yang dapat memprediksi karir individu daripada bakat dengan beberapa kemampuan. Alasannya adalah bahwa memasuki pekerjaan dapat diprediksi lebih baik dari minat daripada sikap individu dengan banyak kemampuan yang bisa memilih rangkaian yang luas. Tidak sama dengan tes sikap mempunyai skala kerja yang khusus.
Instrumen yang bisa digunakan untuk mengukur minat individu terhadap karir tertentu antara lain: (a) Kuder Preference Record- Form C (KPRC) scientific,persuasive, atristic, literary, musical, social service and clerial; (b) strong interest inventory (SII) Basic Interest Scale dengan aspek yang diukur di antaranya adventure, art, athletics,bussiness management, domestic, merhanding, militaryactivities, music/dramatic, danlain sebagainya.
4. Nilai-nilai
Melambangkan sesuatu yang penting. Nilai-nilai sebagai suatu yang sulit untuk memperkirakan kemungkinannya. nilai-nilai yang sangat penting dalam konseling karir yaitu nilai-nilai umum dan nilai dunia kerja. Adapun maksed dari pengetahuan mengenai nilai-nilai ini adalah agar individu mampu memutuskan arah karir yang jelas.
5. Kepribadian
Pengukuran dari kepribadian telah menjadi era penting dari belajar dan berguna untuk mengkonseptualisasikan individu dalam pilihan vokasional. Minimal terdapat tiga jenis intrumen untuk mengukur insividu. Dengan instrumen tersebut konselor dapat mencocokan profil kepribadian konseling dalam karir yang cocok.
Kamis, 25 Mei 2017
Teori-Teori Karir
Teori Trait and Factor
Teori ini dikembangkan berdasarkan sumbangan beberapa ahli perkembangan karir seperti Frank Parson, E.G. Williamson, D.G. Petterson, J.G. Darley, dan Miller yang tergabung dalam kelompok :Minnesota" (Munandir, 1996). Istilah trait itu sendiri merujuk pada karakteristik individu yang dapat diukur melalui tes. "factor" merujuk pada karakteristik yang dibutuhkan untuk penampilan kerja yang sukses. Jadi, istirah trait and factor merujuk pada penilaian karakteristik individu dan pekerjaan (Sharf, 1992: 17). Dalam assesmen trait ini, Parson (Sharf, 1992: 17) mengajukan bahwa untuk memilih karir, seorang individu idealnya harus memiliki;
a. Pengertian yang jelas mengenai diri sendiri, sikap, minat, ambisi, batasan sumber dan akibatnya,
b. Pengetahuan akan syarat-syarat dari kondisi sukses, keuntungan dan kerugian, kompensasi, kesempatan dan harapan masa depan pada jenis pekerjaan yang berbeda-beda, dan
c. Pemikiran yang nyata mengenai hubungan-hubungan antara dua kelompok atau fakta-fakta ini.
Hampir senada dengan pendapat tersebut, Crites (1981: 22) berpendapat bahwa perkembangan karir individu berdasarkan teori ini didasarkan pada asumsi berikut;
1. Dengan ciri psikologisnya yang khas, bagi setiap individu yang saling cocok adalah bekerja di suatu jenis pekerjaan tertentu,
2. Sekelompok pekerja dalam pekerjaan-pekerjaan yang berlainan mempunyai ciri psikologis yang berlainan pula, dan
3. Penyesuaian vokasional berbeda-beda, selaras dengan yang bersangkutan dengan tuntutan dunia kerja tertentu.
Marinhu (1985:64) menjelaskan bahwa teori trait and factor termasuk kedalam teori struktural. Teori ini memandang individu sebagai organisasi kapasitas dan sifat-sifat lain yang dapat diukur dan dihubungkan dengan persyaratan program latihan atas dasar informasi yang diperoleh tentang perbedaan-perbedaan individu yang menduduki okupasi atau hubungan pilihan karir dan kepuasan. Teori trait and factor lebih deskriptif pengaruhnya terhadap pilihan karier daripada menjelaskan perkembangan karir.
Menurut pandangan Parson dan Williamson (Winkel, 1996: 575) ciri khas dari teori ini adalah bahwa seseorang dapat menemukan vokasional yang cocok baginya dengan mengkorelasikan kemampuan, potensi, dan wujud minatyang dimilikinya dengan kualitas-kualitas yang secara objektif dituntut bila akan memegang vokasional tertentu. Pandangan ini bagaiman individu membuat pilihan karir yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan dan minat individu ini dapat diketahui melalui testing.
Pada dasarnya teori ini menyatakan bahwa pemilihan karir individu sangat ditentukan oleh kesesuaian kemampuan, minat, prestasi, nilai-nilai dan kepribadian dengan dunia kerja. Pandangan yang luas dari teori ini menunjukkan bagaimana kesemua itu dapat digunakan untuk mengkonseptualisasikan perkembangan karir. Parson (Sharf, 1992: 18) mengkarakterisasikan tahap pertama dari pilihan karir adalah manfaat dari "pemahaman diri, sikap, minat kemampuan, minat ambisi, sumber daya dan penyebabnya." Pada tahap ini, bakat, prestasi, minat, nilai dan kepribadian untuk merefleksikan lima tipe dari perkiraan yang muncul sebagai suatu yang penting dalam konseling karir. tahap kedua adalah mendapatkan pengetahuan dari syarat dan kondisi kesuksesan, keuntungan dan ketidakuntungan, kompensasi, kesempatan dan prospek dalam jalur karir yang berbeda. Pada tahap ini didiskusikan bagaimana konselor dapat membantu konseling dalam mendapatkan pengetahuan ini. tahap ketiga menurut Parson adalah bahwa sebuah pilihan yang diharapkan dibuat dengan alasan yang benar dari hubungan dua kelompok ini. Disini pertimbangan integrasi informasi tentang diri dan dunia kerja, memberikan fokus yang tidak dibatasi untuk penggunaan kemampuan-kemampuan kognitif tetapi juga refleksi kemampuan diri.
Teori ini dikembangkan berdasarkan sumbangan beberapa ahli perkembangan karir seperti Frank Parson, E.G. Williamson, D.G. Petterson, J.G. Darley, dan Miller yang tergabung dalam kelompok :Minnesota" (Munandir, 1996). Istilah trait itu sendiri merujuk pada karakteristik individu yang dapat diukur melalui tes. "factor" merujuk pada karakteristik yang dibutuhkan untuk penampilan kerja yang sukses. Jadi, istirah trait and factor merujuk pada penilaian karakteristik individu dan pekerjaan (Sharf, 1992: 17). Dalam assesmen trait ini, Parson (Sharf, 1992: 17) mengajukan bahwa untuk memilih karir, seorang individu idealnya harus memiliki;
a. Pengertian yang jelas mengenai diri sendiri, sikap, minat, ambisi, batasan sumber dan akibatnya,
b. Pengetahuan akan syarat-syarat dari kondisi sukses, keuntungan dan kerugian, kompensasi, kesempatan dan harapan masa depan pada jenis pekerjaan yang berbeda-beda, dan
c. Pemikiran yang nyata mengenai hubungan-hubungan antara dua kelompok atau fakta-fakta ini.
Hampir senada dengan pendapat tersebut, Crites (1981: 22) berpendapat bahwa perkembangan karir individu berdasarkan teori ini didasarkan pada asumsi berikut;
1. Dengan ciri psikologisnya yang khas, bagi setiap individu yang saling cocok adalah bekerja di suatu jenis pekerjaan tertentu,
2. Sekelompok pekerja dalam pekerjaan-pekerjaan yang berlainan mempunyai ciri psikologis yang berlainan pula, dan
3. Penyesuaian vokasional berbeda-beda, selaras dengan yang bersangkutan dengan tuntutan dunia kerja tertentu.
Marinhu (1985:64) menjelaskan bahwa teori trait and factor termasuk kedalam teori struktural. Teori ini memandang individu sebagai organisasi kapasitas dan sifat-sifat lain yang dapat diukur dan dihubungkan dengan persyaratan program latihan atas dasar informasi yang diperoleh tentang perbedaan-perbedaan individu yang menduduki okupasi atau hubungan pilihan karir dan kepuasan. Teori trait and factor lebih deskriptif pengaruhnya terhadap pilihan karier daripada menjelaskan perkembangan karir.
Menurut pandangan Parson dan Williamson (Winkel, 1996: 575) ciri khas dari teori ini adalah bahwa seseorang dapat menemukan vokasional yang cocok baginya dengan mengkorelasikan kemampuan, potensi, dan wujud minatyang dimilikinya dengan kualitas-kualitas yang secara objektif dituntut bila akan memegang vokasional tertentu. Pandangan ini bagaiman individu membuat pilihan karir yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan dan minat individu ini dapat diketahui melalui testing.
Pada dasarnya teori ini menyatakan bahwa pemilihan karir individu sangat ditentukan oleh kesesuaian kemampuan, minat, prestasi, nilai-nilai dan kepribadian dengan dunia kerja. Pandangan yang luas dari teori ini menunjukkan bagaimana kesemua itu dapat digunakan untuk mengkonseptualisasikan perkembangan karir. Parson (Sharf, 1992: 18) mengkarakterisasikan tahap pertama dari pilihan karir adalah manfaat dari "pemahaman diri, sikap, minat kemampuan, minat ambisi, sumber daya dan penyebabnya." Pada tahap ini, bakat, prestasi, minat, nilai dan kepribadian untuk merefleksikan lima tipe dari perkiraan yang muncul sebagai suatu yang penting dalam konseling karir. tahap kedua adalah mendapatkan pengetahuan dari syarat dan kondisi kesuksesan, keuntungan dan ketidakuntungan, kompensasi, kesempatan dan prospek dalam jalur karir yang berbeda. Pada tahap ini didiskusikan bagaimana konselor dapat membantu konseling dalam mendapatkan pengetahuan ini. tahap ketiga menurut Parson adalah bahwa sebuah pilihan yang diharapkan dibuat dengan alasan yang benar dari hubungan dua kelompok ini. Disini pertimbangan integrasi informasi tentang diri dan dunia kerja, memberikan fokus yang tidak dibatasi untuk penggunaan kemampuan-kemampuan kognitif tetapi juga refleksi kemampuan diri.
Jumat, 05 Mei 2017
Teori-Teori Karir
Teori Super
Teori renan hidup (life span) dari Donald E. Super menitikberatkan pada proses perkembangan karir, yang berfokus pada pertumbuhan dan arah dari sejumlah persoalan karir individu sepanjang rentang hidup adalah teori yang mencakup periode waktu yang cukup panjang. Proses kematangan karir diawali dengan perkembangan untuk pengambilan keputusan karir pada masa kanak-kanak. Pada masa ini sejalan dengan perkembangan rasa keingintahuan dan penggalian untuk memperoleh informasi dari pengamatan dan peranan model-model. Hal ini akan mengarah pada perkembangan-perkembangan minat dan konsep dirinya, yang dihasilkan dari kemampuan untuk merencanakan karirnya.
Perkembangan minat, kecakapan daya tahan dan nilai-nilai akan berlansung pada masa remaja. Sehubungan dengan perkembangan yang mengarah pada kematangan karir, maka individu pada masa remaja ini perlu dibekali dengan pengetahuan tentang pengambilan keputusan dan informasi jabatan. Pendekatan teori tentang rentan hidup banyak didasari oleh analisis Donald E. Super. Beberapa alasan mengapa teori ini dijadikan dasar bagi teori rentang hidup adalah sebagai berikut:
a. Teori perkembangan super adalah salah satu teori yang menggambarkan sebagaian kecin rentangan hidup,
b. Ada beberapa teori rentan hidup yang kemudian dikembangkan oleh Super menjadi suatu bentuk yang valid dalam teorinya disertai instrumen yang dapat digunakan dalam konseling,
c. Banyak penelitian yang dihubungkan dalam konseling dari teori perkembangan Super,
d. Beberapa karakter dan faktor dari perkembangan karir banyak memiliki kemiripan.
Super (Sarf 1992: 121-122) mengasumsikan perkembangan karir merupakan peranan individu dalam dunia yang mereka tempati. Ia juga menjelaskan bahwa peranan individu mencakup pengaruh dan hasil belajar, layanan kelompok, peluang kerja, dan keluarga bagi perkembangan karir sepanjang hidup. Tahapan dan tugas menjadi point penting dalam teori Super. Ia menggambarkan teorinya dalam beberapa bagian yang mencakup hasil analisis Thorndike, Hull, Bandura, Freud, Jung, Adler, Murray, Maslow, Allport, Rogers, dan sebagainya. Dari teori-teori mereka Super membangun asumsi dasar untuk mengembangkan teorinya, Asumsi dasar itu meliputi aspek psikologis, kondisi genetik, aspek geografis, bangsa dan budaya memberikan pengaruh langsung bagi perkembangan karir. Secara garis besar aspek itu meliputi karakteristik perkembangan psikologis dan struktur sosial ekonomi dari lingkungan. Karakteristik psikologi mencakup kebutuhan-kebutuhan perkembangan, nilai-nilai, miat, intelegensi, bakat, dan kreatifitas yang mengarah pada perkembangan kepribadian individu yang kompleks. Faktor sosial ekonomi menyangkut masyarakat, sekolah, keluarga, teman sebaya, kondisi ekonomi pasaran tenaga kerja. Pengaruh struktur kerja dan kondisi tenaga kerja yang merupakan faktor kondisi luar dimana individu harus berinteraksi. Faktor piskologis dan sosial ekonomi memberikan pengaruh pada perkembangan dirinya. Individu belajar mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya sesuai tahapan perkembangannya, yang akan membentuk sebuah konsep pada dirinya.
Perkembangan aspek psikologis dan sosio-ekonomis inilah terbentuk konsep diri individu sebagai hasil dari upaya mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, teori Super mengemukakakan teorinya tentang pemilihan karir sebagai implementasi dari konsep diri. Menurut teori Super (Surya, 1988:234) berkaitan dengan pemilihan karir adalah sebagai berikut;
a. Individu itu mempunyai kualifikasi atau kewenangan untuk banyak bidang pekerjaan,
b. Setiap bidang pekerjaan menuntut pola karakteristik kecakapan dan ciri-ciri pribadi,
c. Meskipun konsep diri individu dan situasi sosial berubah, proses pemilihan tetap berlangsung sejalan dengna pertumbuhan, mulai dari tahap eksplorasi, pemilihan dan penurunan,
d. Pola-pola karir (tingkatan, urutan, dan durasi pekerjaan) berkaitan dengan tingkat sosio-ekonomi orang tua, kecakapan, kepribadian, dan kesempatan,
e. Perkembangan Vokasional (karir) sebagai implementasi konsep dan merupakan hasil interaksi antara pembawaan, faktor fisik, kesempatan peran-peran tertantu, dan dukungan dari teman sebaya dan orang yang memiliki kelebihan,
f. Kepuasan tergantung pada kesempatan memperoleh kepuasan kebutuhuhan pribadi, dan situasi kerja yang memberikan kesempatan bermain peranan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut lahirlah konsep Super yang berkaitan dengan peran-peran hidup dan tahap-tahap perkembangan.
(Dikutip dari "Konseling Karir Sepanjang Rentang Hidup", oleh Dr. Uman Suherman AS.)
Teori renan hidup (life span) dari Donald E. Super menitikberatkan pada proses perkembangan karir, yang berfokus pada pertumbuhan dan arah dari sejumlah persoalan karir individu sepanjang rentang hidup adalah teori yang mencakup periode waktu yang cukup panjang. Proses kematangan karir diawali dengan perkembangan untuk pengambilan keputusan karir pada masa kanak-kanak. Pada masa ini sejalan dengan perkembangan rasa keingintahuan dan penggalian untuk memperoleh informasi dari pengamatan dan peranan model-model. Hal ini akan mengarah pada perkembangan-perkembangan minat dan konsep dirinya, yang dihasilkan dari kemampuan untuk merencanakan karirnya.
Perkembangan minat, kecakapan daya tahan dan nilai-nilai akan berlansung pada masa remaja. Sehubungan dengan perkembangan yang mengarah pada kematangan karir, maka individu pada masa remaja ini perlu dibekali dengan pengetahuan tentang pengambilan keputusan dan informasi jabatan. Pendekatan teori tentang rentan hidup banyak didasari oleh analisis Donald E. Super. Beberapa alasan mengapa teori ini dijadikan dasar bagi teori rentang hidup adalah sebagai berikut:
a. Teori perkembangan super adalah salah satu teori yang menggambarkan sebagaian kecin rentangan hidup,
b. Ada beberapa teori rentan hidup yang kemudian dikembangkan oleh Super menjadi suatu bentuk yang valid dalam teorinya disertai instrumen yang dapat digunakan dalam konseling,
c. Banyak penelitian yang dihubungkan dalam konseling dari teori perkembangan Super,
d. Beberapa karakter dan faktor dari perkembangan karir banyak memiliki kemiripan.
Super (Sarf 1992: 121-122) mengasumsikan perkembangan karir merupakan peranan individu dalam dunia yang mereka tempati. Ia juga menjelaskan bahwa peranan individu mencakup pengaruh dan hasil belajar, layanan kelompok, peluang kerja, dan keluarga bagi perkembangan karir sepanjang hidup. Tahapan dan tugas menjadi point penting dalam teori Super. Ia menggambarkan teorinya dalam beberapa bagian yang mencakup hasil analisis Thorndike, Hull, Bandura, Freud, Jung, Adler, Murray, Maslow, Allport, Rogers, dan sebagainya. Dari teori-teori mereka Super membangun asumsi dasar untuk mengembangkan teorinya, Asumsi dasar itu meliputi aspek psikologis, kondisi genetik, aspek geografis, bangsa dan budaya memberikan pengaruh langsung bagi perkembangan karir. Secara garis besar aspek itu meliputi karakteristik perkembangan psikologis dan struktur sosial ekonomi dari lingkungan. Karakteristik psikologi mencakup kebutuhan-kebutuhan perkembangan, nilai-nilai, miat, intelegensi, bakat, dan kreatifitas yang mengarah pada perkembangan kepribadian individu yang kompleks. Faktor sosial ekonomi menyangkut masyarakat, sekolah, keluarga, teman sebaya, kondisi ekonomi pasaran tenaga kerja. Pengaruh struktur kerja dan kondisi tenaga kerja yang merupakan faktor kondisi luar dimana individu harus berinteraksi. Faktor piskologis dan sosial ekonomi memberikan pengaruh pada perkembangan dirinya. Individu belajar mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya sesuai tahapan perkembangannya, yang akan membentuk sebuah konsep pada dirinya.
Perkembangan aspek psikologis dan sosio-ekonomis inilah terbentuk konsep diri individu sebagai hasil dari upaya mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, teori Super mengemukakakan teorinya tentang pemilihan karir sebagai implementasi dari konsep diri. Menurut teori Super (Surya, 1988:234) berkaitan dengan pemilihan karir adalah sebagai berikut;
a. Individu itu mempunyai kualifikasi atau kewenangan untuk banyak bidang pekerjaan,
b. Setiap bidang pekerjaan menuntut pola karakteristik kecakapan dan ciri-ciri pribadi,
c. Meskipun konsep diri individu dan situasi sosial berubah, proses pemilihan tetap berlangsung sejalan dengna pertumbuhan, mulai dari tahap eksplorasi, pemilihan dan penurunan,
d. Pola-pola karir (tingkatan, urutan, dan durasi pekerjaan) berkaitan dengan tingkat sosio-ekonomi orang tua, kecakapan, kepribadian, dan kesempatan,
e. Perkembangan Vokasional (karir) sebagai implementasi konsep dan merupakan hasil interaksi antara pembawaan, faktor fisik, kesempatan peran-peran tertantu, dan dukungan dari teman sebaya dan orang yang memiliki kelebihan,
f. Kepuasan tergantung pada kesempatan memperoleh kepuasan kebutuhuhan pribadi, dan situasi kerja yang memberikan kesempatan bermain peranan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut lahirlah konsep Super yang berkaitan dengan peran-peran hidup dan tahap-tahap perkembangan.
(Dikutip dari "Konseling Karir Sepanjang Rentang Hidup", oleh Dr. Uman Suherman AS.)
Rabu, 03 Mei 2017
Assesment dalam Prespektif Karir
Perkembangan standarisasi tes dan inventory asesmen memiliki ikatan yang erat dengan gerakan konseling vokasional. Sebelum tahun 1883, the US Civil Service Commision menggunakan ujian kompetitif untuk penempatan kerja (Kavruck,1996). Berbagai tes berkembang selama pertengahan tahun 1940- an dan digunakan secara meluas dalam konseling pendidikan dan vaksional. Tes bakat terhadap pelajaran berguna sebagai kriteria memasuki institusi pendidikan yang diimplementasikan melalui educational testing service (ETS) yang ditetapkan pada tahun 1947 dan american college testing program (ACT) yang ditetapkan pada tahun 1959.
Terdapat kontroversi dari penggunaan tes bakat dalam konseling karir. Tentang hasildua study terhadap nilai tes ini yang berperan sebagai prediktor keberhasilan pada masa akan datang, yaitu bagaimana tes dapat memprediksi peforma suatu vokasional atau program pelatihan. Thorndike dan Hogan (1959) mengikuti pola karir dari 1000 laki-laki yang dites selama PD II untuk menentuhkan jika hasil tes ini merupakan prediktor valid bagi keberhasilan orang-orang tersebut. Hasil study selama 12 tahun pertama tidak menghasilkan prediksi akurat tentang keberhasilan dalam vokasional pekerjaan. Penelitian lain Ghiseli (1966) berpendapat bahwa prediksi keberhasilan dalam program vokasional pelatihan yang berdasarkan atas hasil tes itu hanyalah karena sedang dapat dipercaya. Kutipan studi ini dan persoalan lain dalam menggunakan tes ini untuk populasi khusus (kelompok etnik dan wanita) tentang penggunaan instrumen asesmenini dalam program konseling karir sebenarnya membingungkan.
Secara historis, asesmen merupakan bagian integral dari konseling karir. Asesmen konseling karir memiliki sejarah panjang sepanjang sejarah konseling karir itu sendiri, banyak karya asli dari Fank Parsons. Parsons (Whistom, 2000) mendorong perkembangan asesmen konseling karir kedalam tiga tahap model konseling karir. Tahap pertama, study atau mengukur individu yang merupakan testing individual yang bersifat esensial. Beberapa individu yang memandang konseling karir hanya sebagai terdiri atas testing dan menyediakan informasi okupasional. Pendekatan "tes dan berkata" ini tidak merefleksikan status terbaru dari wilayah konseling karir, untuk penelitian menunjukkan bahwa konseling karir tidak dapat dipisahkan dari konseling personal (individual). Asesmen, merupakan instrumen penting yang rutin digunakan untuk membantu individu mengeksplorasi pengarahan karir dan membuat keputusan karir secara efektif. Spokane (Whiston, 2000) mengusulkan bahwa asesmen karir adalah untuk menggali dan menemukan kesesuaian kemungkinan karir, menilai konflik dan masalah, memotivasi perilaku ke arah yang lebih konstruktif, menemukan struktur kognitif untuk mengevaluasi alternatif karir, mengklarifikasi ekspetasi dan rencana intervensi dan menetapkan kemampuan. Sebagaimana deskripsi yang direfleksikan oleh Spokane, asesmen karir mempunyai tujuan yang beragam dan meliputi beragam wilayah yang luas.
Bab ini akan membagi asesmen karir dalam dua kategori utama : instrumen-instrumen yang digunakan untuk menilai menilai perbedaan individu dan instrumen-instrumen yang digunakan untuk menilaiproses perkembangan karir. Banyak asesmen karir yang dapat digunakan yang dirancang untuk mengukur aspek perbedaan individu, seperti minat, bakat, nilai-nilai, dan kebutuhan. Pengukuran perbedaan individu digunakan dalam konseling karir karena memiliki hubungan yang efektif dalam pemilihan atau keputusan karir. Kategori lain dari instrumen berhubungan dengan proses pemilihan karir. Fokus kategori instrumen ini tidak pada atribut-atribut konseling tetapi lebih pada proses individu menyeleksi karir. Dalam istilah proses pemilihan karir, banyak instrumen berhubungan dengan ketidakmampuan membuat keputusan (indecision) atau tahapan kematangan karir konseling (career maturity).
Komputer memiliki pengaruh yang signifikan pada asesmen karir dan diseminasi informasi karir. Sebgaimana komputer juga dapat digunakan oleh konseling untuk melengkapi asesmen karir yang didasarkan pada informasi okupasi tersebut. Beberapa program komputerisasi yang interaktif dalam asesmen minat, nilai-nilai, dan ketrampilan atau kemampuan konseling.
"Dikutip dari Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan, karya Dr. Uman Suherman AS."
Langganan:
Komentar (Atom)
Tahap Memperoleh Pemahaman Diri Menurut Teori Trait and Factor
Pada tahap ini dideskripsikan minimal lima jenis tes yang sering digunakan oleh konselor dalam konseling karir trait and factor, yai...
-
A. Teori Kepribadian Henry Murray Henry Murray lahir pada 31 Mei 1893 di New York City, USA. Murray mengikuti pendidikan di Groton ...
-
Teori Trait and Factor Teori ini dikembangkan berdasarkan sumbangan beberapa ahli perkembangan karir seperti Frank Parson, E.G. Wi...